Lapas Narkotika Jakarta Melakukan Focus Group Discussion Mengenai Riset Pelaksanaan Revitalisasi Pemasyarakatan

Jakarta, LapsustikNews– Dalam rangka penelitian Lapangan Pelaksanaan Revitalisasi Pemasyarakatan di wilayah Jabodetabek dan Nusakambangan, guna menghasilkan rancangan standar dan pedoman kerja Sistem Penilaian Perilaku Narapidana bagi Petugas di Lapas Super Maximum, Maksimum, Medium, dan Minimum Security.

Direktorat Jendral Pemasyarakatan bekerjasama dengan Center for Detention Studies (CDS) menggelar diskusi yang diselenggarakan melalui Teleconference via aplikasi Zoom, Kamis (02/7), yang diikuti oleh Beberapa  Ka.UPT  Pemasyarakatan beserta Jajarannya yang salah satunya Lapas Narkotika Jakarta, dan juga Perwakilan dari AIPJ (Australia Indonesia Patnership for Justice) sebagai Salah Satu Pembicara.

Kegiatan dibuka oleh Lollong M. Awi selaku Moderator Acara, dari CDS (Center for Detention Studies), dan Siwi Sarita Selaku Peneliti CDS kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Hasil Riset Revitalisasi PAS oleh CDS (Center for Detention Studies).dan Pemaparan Permasalahan yang ada di UPT Pemasyarakatan yang Mengikuti Diskusi.

Riset dilaksanakan dengan berpedoman pada Peraturan mengenai Revitalisasi Pemasyarakatan yakni Permenkumham No. 35 Tahun 2018. Riset dilakukan karena setiap Kategori Lapas, baik itu Kategori Super Maksimum, Maksimum, Medium Maupun Minimum Security Membutuhkan Pedoman kerja yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan pedoman kerja yang mengatur secara khusus.Riset ini juga dilakukan untuk mengetahui kebutuhan standar dan instrument penilaian di tiap-tiap kategori Lapas yang ada.

Tujuan dari Riset ini adalah Menghasilkan Pedoman Kerja untuk kategori Lapas Maksimum, Medium, dan Minimum, dengan Menghasilkan Standar SPPN dan Menghasilkan Instrument Penilaian perubahan perilaku Narapidana Umum dan Teroris.

Oga G. Darmawan selaku Kalapas Narkotika Jakarta menyampaikan kepada Tim Peneliti dari CDS “Blok Pamsus di Lapas Narkotika Jakarta sudah tidak Efektif lagi, karena Lapas narkotika Jakarta sudah menjadi Lapas dengan Keamanan Medium Security, dan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Medis di Lapas Narkotika Jakarta Masih Memiliki Kendala yaitu Kekurangan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam Pelaksanaan di Lapangannya.

Kegiatan ini, dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu sesi pagi, dan sesi Siang. Kegiatan juga Dilanjutkan dengan Pembahasan Mengenai Pelaksanaan Pembinaan Rehabilitasi yang diLakukan di Lapas. yang  Dimana  setiap sesi paparan dilakukan diskusi dan tanya jawab.

 

Kontributor: Gipsta | Dokumentasi: Fahrurozi