Puncak Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke 53 di Lapas Narkotika Jakarta

Jakarta, LapsustikNews – Puncak Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke 53 yang di gelar oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS)dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Jakarta. Dengan menggelar pertunjukan Sendratari Kolosal “Merangkai Asa” yang melibatkan 328 Warga Binaan Lapas dan Rutan di Indonesia serta bekerjasama dengan Institus Kesenian Jakarta (IKJ), ini hanya menghabiskan 14 hari waktu latihan. Berkisah tentang keterpurukan perjalanan hidup manusia, dan perjuangannya menghidupkan serta merebut setiap asa yang masih tersisa.

Dalam Sambutannya Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Yassona H. Laoly menyampaikan “Sendratari ini merupakan wujud kreasi Warga Binaan Pemasyarakatan. Walaupun berada di tempat yang terbatas, namun mereka masih punya semangat dan cita – cita yang tinggi untuk mengembangkan talentanya”.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak ketiga yang bersama – sama dengan Dirjen PAS yang turut ikut serta memberikan pembinaan melalui program – program yang ada. Jajaran Pemasyarakatan harus terus berupaya keras mengembangkan talenta – talenta Warga Binaan Pemasyarakatan sehingga Lapas tidak lagi menjadi tempat yang mengerikan tetapi menjadi tempat yang kita dapat berkreasi”.

“Program Sendratari ini juga menjadi bagian dari program pemerintah untuk memajukan kesenian sendratari dan termasuk di dalam mendukung program pemerintah “Wonderful Indonesia”, Program yang di luncurkan Kementerian Pariwisata. semua kita ingin menunjukan kepada dunia Internasional bahwa ratusan jenis tarian indonesia apabila di kemas secara apik dapat menghasilkan sesuatu yang Luar Biasa”.

Di Akhir acara, MURI (Museum Rekor Indonesia) Menyerahan Piagam pengharaan atas kategori Penyelenggaraan Sendratari Terbesar dan peserta Terbanyak yang di adakan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan di dalam Lapas, Kepada Kemenkumham yang di wakili oleh Sekretasis Jendral Kemenkumham, Bapak Bambang Rantam S. Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Bapak I Wayan K. Dusak dan Kalapas Narkotika Jakarta, Bapak R. Andhika Dwi Prasetya.

Kontributor : Budi Leksono